Rabu, 03 Juni 2009

pembahasan

BAB II PEMBAHASAN

MODEL PENGEMBANGAN INTRAKSIONAL II

( magician state university intraksional system development model )

A. Sejarah

Model pengembangan intraksional ini merupakan penemuan yang kedua setelah SAFE. Terkait dengan banyaknya lulusan sekolah menengah muncul masalah banyaknya pengangguran. Maka munculah perguruan-perguruan tinggi untuk menampungnya sesuai dengan permintaan masyarakat.

Barson menganalisis cara pembelajaran dengan menyesuaikan pada tingkat perguruan tinggi, sehingga pada tahun 1967 barson mengeluarkan sistimmagician state university instraksional system development model ini.

B. Dalam pengembangan instraksional terdiri dari beberapa langkah, mnamun secara garis besar dikelompokkan dalam tiga tahap, sebagai berikut:

1) Identifikasi Masalah

Dalam mengdentifikasi masalah ini, yaitu menentukan tujuan pendidikan umum di perguruan tinggi, fakultas, jurusan dan mata kuliah dengan identifikasi masalah “apa masalahnya?”

Maka dimulai dengan mengumpulkan data dan masukan, yaitu nenentukan karakteristik mahasiswa dan sumber belajar yang tersedia, dan menentukan prilaku awal dan akhir.

Belajar di perguruan tinggi merupakan suatu pilihan di antara alternative strategi untuk mencapai tujuan individual. Kesadaran mengenai hal ini akan sangat menentukan sikap dan pandangan belajar di perguruan tinggi pada yang akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang belajar di perguruan tinggi.

Karena seseorang mendapat privilege belajar di pergueuan tinggi, seseorang dituntut untuk berbuat atau bertindak lebih dari mereka yang tidak mendapatkan privilege tersebut. Mereka yang belajar di perguruan tinggi dituntut tidak hanya mempunyai keterampilan teknis tetapi juga mempunyai daya dan kerangka piker serta sikap mental dan kepribadian tertentu. Sehingga mereka mempunyai wawasan yang luas dalam menghadapi masalah-masalah dalam lingkungan masyarakat.

Dari tujuan tersebut dapat dapat di uraikan menjadi tujuan khusus yang lebih rinci terbentuk dalam fakultas. Misalkan pada perguruan tinggi agama dibagi pada fakultas tarbiyah, syari’ah dan lain sebagainya. Di dalam fakultas tersebut dibagi pada tujuan yang lebih khusus yang terbeentuk nantinya pada jurusan misalkan pada fakultas tarbiyah terdapat jurusan BKI, pai, tadris dan lain sebagainya. Atas tujuan khusus dari jurusan inilah nantinya terbentuk mata kuliyah yang dipilih dan di sajikan kepada mahasiswa kelak. Seperti pada jurusan pai terdapat mata kuliyah spi, hadist, fiqih dan lain sebagainya.. dapat dilihat pada bagan berikut:

STAIN ( tujuan umum PT )

TARBIYAH

SYARI’AH

BKI

PAI

TADRIS

B.INGGRIS

SPI

A.HADITS

A.AKHLAK

FIQIH


















Akhirnya tujuan tersebut harus dicapai dalam bentuk unit kegiatan belajar mengajar yang disebut dengan kuliyah, yaitu bentuk interaksi antara dosen, mahasiswa dan pengetahuan atau keterampilan.

2) Pengembangan stategi dan bahan intraksional.

Dalam hal pengembangan strategi dan bahan intruksional ini terdiri lagi dalam beberapa langkah:

· Penentuan mode

Untuk memungkinkan nahasiswa mencapai tujuan pembelajaran, maka dalam penentuan metode yang harus direncanakan adalah:

Ø Merencanakan strategi

Ø Mengembangkan contoh pengajaran untuk isi pelajaran tertent. Contoh pelajaran agama islam ( PAI) mata kuliyah yang dituju adalah A.hadits, A.akhlak, SKI, dan fiqih. Kemudian bagaimana menciptakan mahasiswa yang terampil menjadi seorang guru, maka dipelajari pula pengembangan-pengembangan pendidikan yang sesuai dengan zaman yang berazazkan islam.

Ø Memilih bentuk informasi yang representative.

Ø Kemudian menentukan alat transmisinya.

· Pembuatan prototype, yaitu permulaan produksi untuk menghasilkan perolehan sesungguhnya dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagaai berikut:

Ø Mengumpulkan, mendesain, dan memproduksi media yang telah ditentukan logis, sistematis, dan dapat merealisasikan sampainya tujuan.

Ø Mengembangkan rasional untuk tes awal dan akhir.

Ø Mengembangkan instrument evaluasi dengan menggunakan data mahasiswa dan informasi media.

3) Mengevaluasi efektifitas dan keefisienannya.

Dalam mengevaluasi efektifitas atau tidaknya perencanaan tersebut dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

· Melaksanakan tes atau uji coba prototype dengan cara tes lapangan dengan kelompok mahasiswa lain.

· Setelah terlaksana uji coba prototype maka di anlisis apakah sudah spesifik atau tidak.

· Implementasi atau uji coba ulang. Setelah mengetahui bagian mana yang tidak spesifik maka dilakukan uji coba ulang dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Ø Mengidentifikasi letak kesalahan dan mengoreksi kelemahan dengan cara menerapkan kepada mata kuliyah.

Ø Kemudian dievaluasikan dan mengulang kembali untuk memperbaiki kesalahan sebagaimana diperlukan.

Dari uraian pengembangan intraksional penemuan Barson ini dapat disimpulkan cara kerjanya dengan bagan sebagai berikut:

MENENTUKAN TUJUAN PENDIDIKAN UMUM PERGURUAN TINGGI , FAKULTAS, JURUSAN MATA KULIYAH


Mengumpulkan data masukan

Mulai

Evaluasi dan mengulang kembali untuk memperbaiki sebagaimana diperlukan

Menentukan prilaku awal dan akhir

Mengembangkan contoh pengajaran untuk isi pelajaran tertentu

Memilih bentuk informasi yang representetif

Mengkombinasikan seluruh data masukan

merampungkan

Mengumpulkan, mendesain, memproduksi media yang ditentukan

Menentukan alat transmisi




Mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan

Tes lapangan dan kelompok siswa

Mengembangkan instument evaluasi dengan menggunakan data mahasiswa dan informasi media

Merencanakan stretegi

Mengembangkan rasional untuk ujian awal dan akhir


























BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan



Pada umunya proses pengembangan intraksional terdiri dari tiga tahap, yaitu yang di mulai dengan mengidentifikasi masalah, dilanjutkan dengan pengembangan strategi, kemudian di akhiri dengan evaluasi efektifitas dan keefisienannya termasuk kegiatan revisi atau perbaikan.

Begitu ppula pengembangan intruksional II ini. Barson hanya lebih mengembangkan unit kegiatan yang tiga tersebut menjadi beberapa langkah kegiatan perencanaan yang lain pada perguruan tinggi pada tahun 1967 Barson mengarang pengembangan intraksional magician state university intraksional system development model ini.

B. Saran

Pemakalah menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, karena manusia tak luput dari salah dan khilaf. Untuk itu pemakalah mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar